Colocation Server: Antara Pendingin, Rak Baja, Dan Begadang

· 2 min read
Colocation Server: Antara Pendingin, Rak Baja, Dan Begadang

Coba pikirkan kalau kamu memiliki server andalan. Bukan pinjaman. Server pribadi. Dan kamu menaruh server itu di gedung yang listriknya stabil, internetnya cepat, dan penjaganya sigap. Inilah yang disebut colocation server. Kamu bawa perangkat, mereka sediakan ruang, daya, pendingin, akses, dan konektivitas.



Kenapa repot-repot? Semua kontrol perangkat ada di tanganmu. CBTP Pengeluaran bisa lebih efisien jika beban stabil. Lisensi software bebas kamu atur. Hasil performa tetap terjaga. Upgrade tanpa menunggu jadwal. Tak perlu menanti vendor yang jadwalnya kadang tak jelas.

Suatu malam saya mengirim server 2U sekitar pukul 3 pagi. Satpam menatap dan berkata, “Ini kulkas ya?” Saya jawab, “Kulkas yang marah kalau listriknya drop.” Kami tertawa. Namun maksudnya serius. Perangkat fisik butuh perhatian. Kamu bisa pilih layanan “remote hands” jika tidak ingin bolak-balik. Cari tahu tarifnya per jam. Tanyakan juga apakah mereka menyediakan kabel konsol, label, dan screwing kit. Hal kecil itu menyelamatkan mood.

Langkah awal: hitung daya. Berapa ampere per rak? 10A? 16A? 32A?. Gunakan hitungan riil, jangan percaya spesifikasi brosur. Prosesor banyak core dan NVMe akan boros daya di beban puncak. Pastikan tersedia dua jalur daya terpisah. PSU harus redundant. PDU jangan tunggal. Gunakan PDU berukuran tepat, dengan metering. Lebih rapi lagi kalau bisa per-outlet monitoring.

Pendingin itu drama lain. Kebanyakan data center pakai sistem cold aisle–hot aisle. Sesuaikan arah aliran udara server. Cold di depan, hot di belakang. Jangan sampai terbalik. Filter debu biasanya tidak perlu, tapi kipas wajib dibersihkan. Suara kipas bisa seperti band metal. Bawa earplug. Serius.

Rak dan rel penting. Banyak yang lupa rel server sering spesifik model. Pastikan panjangnya sesuai kedalaman rak. Siapkan cage nut dan sekrup ekstra. Beri label di semua kabel. Bedakan warna kabel antara jalur A dan jalur B. Kabel pendek lebih berharga. Kabel panjang bikin spageti.

Network itu aliran darah. Periksa daftar carrier di lokasi. Single-homed ke satu penyedia itu riskan. Minta port ganda ke dua switch berbeda. BGP butuh ASN dan prefix siap. Dukungan IPv6 wajib. Cari tahu sistem anti-DDoS. Apakah upstream menerapkan scrubbing dan rate limit? Pastikan biaya burst dan cara penagihannya jelas. Modelnya 95th percentile atau flat commit?

Jalur cadangan adalah OOB. Manajemen OOB itu keharusan. Pasang kartu IPMI yang terkunci dengan baik. Gunakan VPN dan ACL untuk melindungi. Siapkan modem LTE di router cadangan. Console server dengan serial juga berguna saat jaringan utama bermasalah.

SLA bukan sekadar poster. Baca detail kecilnya. Berapa lama respons tiket? Berapa waktu akses ke rak? Biaya kecil untuk aksi seperti menekan power? Pengumuman maintenance berapa hari sebelumnya? Apakah feed A/B diservis bergantian? Jangan sampai terkejut saat hari H.

Keamanan fisik kadang diremehkan. Pakai kartu, PIN, atau fingerprint? Didampingi atau self-access? Rekaman CCTV bertahan berapa lama? Proses handover drive rusak seperti apa? Pakai tas bersegel saat membawa disk. Ingat, data hilang itu reputasi hilang.